MASUK

Minggu, 27 Maret 2011

teater "ladang" smamuh trk di smansa trk

Inilah Tujuh Prinsip Praktik Pembelajaran yang Baik

Dalam sebuah tulisannya, Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson mengetengahkan tentang 7 (tujuh) prinsip praktik pembelajaran yang baik yang dapat dijadikan sebagai panduan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, baik bagi guru, siswa, kepala sekolah, pemerintah, maupun pihak lainnya yang terkait dengan pendidikan.
Di bawah ini disajikan esensi dari ketujuh prinsip tersebut dan untuk memudahkan Anda mengingatnya, saya buatkan “jembatan keledai” dengan sebutan CRAFT HiT
1. Encourages Contact Between Students and Faculty
Frekuensi kontak antara guru dengan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas merupakan faktor yang amat penting untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam belajar. Dengan seringnya kontak antara guru-siswa ini, guru dapat lebih meningkatkan kepedulian terhadap siswanya. Guru dapat membantu siswa ketika melewati masa-masa sulitnya. Begitu juga, guru dapat berusaha memelihara semangat belajar, meningkatkan komitmen intelektual siswa, mendorong mereka untuk berpikir tentang nilai-nilai mereka sendiri serta membantu menyusun rencana masa depannya.
2. Develops Reciprocity and Cooperation Among Students
Upaya meningkatkan belajar siswa lebih baik dilakukan secara tim dibandingkan melalui perpacuan individual (solo race). Belajar yang baik tak ubahnya seperti bekerja yang baik, yakni kolaboratif dan sosial, bukan kompetitif dan terisolasi. Melalui bekerja dengan orang lain, siswa dapat meningkatkan keterlibatannya dalam belajar. Saling berbagi ide dan mereaksi atas tanggapan orang lain dapat semakin mempertajam pemikiran dan memperdalam pemahamannya tentang sesuatu.
3. Encourages Active Learning
Belajar bukanlah seperti sedang menonton olahraga atau pertunjukkan film. Siswa tidak hanya sekedar duduk di kelas untuk mendengarkan penjelasan guru, menghafal paket materi yang telah dikemas guru, atau menjawab pertanyaan guru. Tetapi mereka harus berbicara tentang apa yang mereka pelajari dan dapat menuliskannya, mengaitkan dengan pengalaman masa lalu, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka harus menjadikan apa yang mereka pelajari sebagai bagian dari dirinya sendiri.
4. Gives Prompt Feedback
Siswa membutuhkan umpan balik yang tepat dan memadai atas kinerjanya sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari apa yang telah dipelajarinya. Ketika hendak memulai belajar, siswa membutuhkan bantuan untuk menilai pengetahuan dan kompetensi yang ada. Di kelas, siswa perlu sering diberi kesempatan tampil dan menerima saran agar terjadi perbaikan. Dan pada bagian akhir, siswa perlu diberikan kesempatan untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari, apa yang masih perlu diketahui, dan bagaimana menilai dirinya sendiri.
5. Emphasizes Time on Task
Waktu + energi = belajar. Memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya merupakan sesuatu yang sangat penting bagi siswa. Siswa membutuhkan bantuan dalam mengelola waktu efektif belajarnya. Mengalokasikan jumlah waktu yang realistis artinya sama dengan belajar yang efektif bagi siswa dan pengajaran yang efektif bagi guru. Sekolah seyogyanya dapat mendefinisikan ekspektasi waktu bagi para siswa, guru, kepala sekolah, dan staf lainnya untuk membangun kinerja yang tinggi bagi semuanya
6. Communicates High Expectations
Berharap lebih dan Anda akan mendapatkan lebih. Harapan yang tinggi merupakan hal penting bagi semua orang. Mengharapkan para siswa berkinerja atau berprestasi baik pada gilirannya akan mendorong guru maupun sekolah bekerja keras dan berusaha ekstra untuk dapat memenuhinya
7. Respects Diverse Talents and Ways of Learning
Ada banyak jalan untuk belajar. Para siswa datang dengan membawa bakat dan gaya belajarnya masing-masing Ada yang kuat dalam matematika, tetapi lemah dalam bahasa, ada yang mahir dalam praktik tetapi lemah dalam teori, dan sebagainya. Dalam hal ini, siswa perlu diberi kesempatan untuk menunjukkan bakatnya dan belajar dengan cara kerja mereka masing-masing. Kemudian mereka didorong untuk belajar dengan cara-cara baru, yang mungkin ini bukanlah hal mudah bagi guru untuk melakukannya.
Pada bagian lain, Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson mengatakan bahwa guru dan siswa memegang peran dan tanggung jawab penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi mereka tetap membutuhkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak untuk membentuk sebuah lingkungan belajar yang kondusif bagi praktik pembelajaran yang baik. Adapun yang dimaksud dengan lingkungan tersebut meliputi: (a) adanya rasa tujuan bersama yang kuat; (b) dukungan kongkrit dari kepala sekolah dan para administrator pendidikan untuk mencapai tujuan ; (c) dana yang memadai sesuai dengan tujuan; (d) kebijakan dan prosedur yang konsisten dengan tujuan; dan (e) evaluasi yang berkesinambungan tentang sejauhmana ketercapaian tujuan.
Adaptasi dan terjemahan bebas dari: Arthur W. Chickering dan Zelda F. Gamson. Seven Principles for Good Practice in Undergraduate Education

Belanda oh…belanda

Alkisah di sebuah pemukiman masyarakat yang sedang mengadakan acara pesta rakyat
Dengan semua acara yang tlah berjalan, dengan mc yang sedang memandu acara .
MC : Bla….bla….bla…
Segmen I
Tiba – tiba datang sekumpulan kompeni belanda…
BELANDA : bubar…..bubar……bubar kalian semua
Prajurit I : bubar…..bubar.pergi dari sini,.bubar semua kalian semua hanya buat pusing belanda punya kuasa heh…
Prajurit II : bubar…..bubar.pergi dari sini semua…..bubar.
Centeng : ha…..ha….ha…….kalian orang Indonesia hanya bisa bikin susah.
Pergi semua dari sini, sekarang belanda yang punya kuasa disini. Pergi, nih … mat pe’ih bakal nebasin pala semua kalo lo – lo orang berani macem – macem ma belanda ha..ha..
Kapiten : koe orang bangsat-bangsat Indonesia…. cepat serahkan itu semua pejuang-pejuang Indonesia, atau kalian semua akan mati (seraya menggaris dibawah leher) bubar. Koe ekstrimis ekstrimis tidak berguna cepat pergi
Lalu dengan sikap yang semena-mena para kompeni ini membubarkan semua penonton (warga) yang sedang menyaksikan acara rakyat yang sedang di selenggarakan tersebut.
Segmen II
Disebuah rumah yang sepi oleh hirukpikuk diluar sana tampak beberapa ibu dan anak yang sedang asik bercengkrama dan bermain.
Tampak terlihat seorang bocah kecil yang sedang asik bermain kapal-kapalan yang terbuat dari batang daun pisang, mainan anak-anak desa yang terinspirasi oleh pesawat-pesawat belanda.
Bocah 1 : ngeng….ngeng……….ciu…ciu…(seraya memainkan kapal-kapalannya tersebut)
Bocah 2 : ngeng….ngeng……….ciu…ciu…(seraya memainkan kapal-kapalannya tersebut)
Bocah cewe : sekarang gentian ibu yang jalan (bermain congklak dengan ibunya)
Ibu 1 : oh..iya ndo, ibu yang jalan sekarang ya…
Tampak terlihat 2 ibu yang sedang asik mencari kutu, dikepala ibu yang lainnya.
Ibu 2 : aduh, mbok gimana ini yach, nasib kita. Kalau terus-terusan seperti ini, dimana-mana perang.terus bagaimana nasib suami kita yang sedang berjuang dan berperang melawan belanda.
Ibu 3 : ndo…ndo…wong aku juga bingung! Gimana nasibnya bapaknya anak-anak. Entah sekarang berada dimana????
Ibu 1 : hus… sampean-sampean semua jangan pada berprasangka yang tidak-tidak, seharusnya kita mendoakan agar perang ini berakhir,dan kita harus bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh suami- suami kita juga para pejuang yang lain demi membela Negara ini. Sampai tetes darah penghabisan.
Ibu 2 : iya juga sich, tapi kita kan juga takut terjadi apa-apa dengan bapaknya anak-anak mbok.
Ibu 1 : iyo…iyo… aku juga ngerti ko, wong kangmas ku juga ikut berjuang dan berperang.
Ibu 3 : yo…wis…wis… sekarang sebaiknya kita sama-sama berdoa saja. Biar tidak terjadi apa-apa dengan suami-suami kita yang berperang juga pejuang-pejuang lain yang ikut berperang.
Yang tiba-tiba saja terdengar raungan suara pesawat yang menderu-deru serta menyusul suara-suara tembakan dan dentuman meriam belanda yang membuat sang ibu dan anak ini lari berhamburan meninggalkan rumah, guna mencari tempat perlindungan
Bocah2 : ibu…ibu…mbokke….
Ibu2 : ayo ndo..sebaiknya kita pergi dari sini
Segmen III
Ditempat pengungsian yang kini terpakai sebagai pos perawatan para pejuang yang terluka dan tempat peristirahatan pejuang yang lelah. Dan terlihat aktifitas para pejuang wanita yang sedang sibuk mengobati pejuang yang terluka
Pejuang 1 : aduh…kepala terus mengeluarkan darah..
Perawat 1 : yang kuat yang kang, lagi di obati lukanya.
Pejuang 2 : aduh…aduh….aduh…
Segmen IV
Yang tiba-tiba saja terdengar suara alat komunikasi (hp) berbunyi.
Kopral bolot : ya, halo…halo…
Kopral malih : ya.. halo.. lot…lot, ni gua malih, gua mau kabarin berita lot.
Kopral bolot : halo..halo…het dah. Gimana ini si malih telp ga mau ngomong. Bego..bego. Lih elu mah abis-abisin pulsa gua aja lu lih. (seraya mematikan hp). Masa dia telp kaga ngomong.
Kopral malih : budek..budek..ini nih namanya gaya-gayaan.orang budek dikasih handphone dijadiin bagian komunikasi. Dah tau budek….
Tanpa pantang menyerah akhirnya kopral malih kembali menghubungi kopral bolot ke hp nya.yang tidak lama berselang, terdengar suara HP bolot yang dengan vol. Terbesarnya.
Kopral bolot : (masih terdengar dering hP bolot, seraya berbincang) lih, ko lo telpon hp gua jadi rusak lagi, ga kedengeran deringnya., lih…halo….lih…halo….
(berteriak dan seraya menghampiri bolot)
Kopral malih : begoooooooooo, pencet dulu tombolnya yes nya, baru ngomong..lah orang itu dering sampe orang pada nengok lo bilang ga ada suaranya.dasar budek.
Kopral bolot : o, ya lih… maap lupa…he..he..he… (seraya cengar-cengir)
Kopral bolot : (dengan gaya serius) ya lih, kenapa lo dari tadi telp2 gua terus,
Kopral malih : begini lot, gua mau kasih tau, kalo besok kita dari datasemen alang-alang mau mengadakan serangan fajar ke markas belanda.ganti..
Kopral bolot : ooh….et, dah lih, itu mah gua udah tau, sebelum lo kasih tau juga.
Kopral malih : nah tumben lo bener, bagus dah kalo udah tau, berarti lo tinggal kabarin ama yang laen segala sesuatunya. Oke.
Kopral bolot : oke…sip.lih. kalo masalah atur makanan gua jagonya lih tenang aja lih.
Kopral malih : tau lot, cape gua lot, ngomong sama elo, biarin gu kena tembak dah daripada gua ngomong sama elo.
Kopral bolot : bagus dah cepet-cepet dah kalo gitu.
Kopral malih : au… lot ah. berita duka lot… berita duka…jendral fajar lot kena tembak.
Kopral bolot : et, dah berapa kali si lo kudu bilang, sekali aja juga lo bilang gua denger!!!! Pan tadi lo bilang juga, jendral fajar dari datasemen alang-alang kena tembak. Buruan bawa kesini.
Segmen V
Datanglah para pejuang yang membawa jendral fajar dengn tergopoh-gopoh. Terlihat hiruk pikuk dengan kedatangan salah satu jendral yang teluka parah
Pejuang 3 : tolong…tolong
Pejuang 4 : Bantu…cepat..bantu…
Pejuang 5 : perawat, banyak pendarahan cepat ditangani
Dengan cekatan para pejuang wanita (perawat) menanganinya.
Perawat 1 : kami sudah berusaha semampunya, tapi yang diatas berkehendak lain.
Perawat 2 : kita sekarang telah kehilangan, seorang pejuang lagi, yang akan menjadi pahlawan bagi negeri Indonesia tercinta ini.
Pejuang 1 : jendral…
Pejuang2 : bangun jendral…bangun. (seraya membangunkan)
Segmen VI
Tersiar kabar jendral fajar datasemen alang-alang tewas karena tertembak peluru belanda.
Yang dengan sendirinya meninggalkan rasa duka yang sangat dalam di hati para pejuang Indonesia.
Bocah 1 : bapak…bapak…bangun pak bangun (seraya menangis)
Ibu 1 : pak, bangun…bangun…(seraya menangis) anak mu pak kasian..bangun
Rasa sedih duka tercampur menjadi satu dalam pos perawatan, yang selama ini di jadikan markas berkumpulnya para pejuang
Ibu 1 : (puisi)
Bocah2 : (menangis tersedu2) bapak..
Para pejuang : merdeka atau mati.. merdeka..
Pejuang 6 : perhatian2..kabari yang lain markas kita sudah diketahui belanda
Pejuang 1 : cepat kita harus segera mencari tempat lain untuk bersembunyidan mengobati yang terluka.
Disaat semuanya sibuk dengan tersiarnya kabar keadaan markas yang telah diketahui musuh,
kopral malih : lot, kita diserang . panggil pasukan yang lain.
Kopral bolot : oke lih, gua on the way dengan pasukan malaikat penjaga,
Serbu……!!
Segmen VII
Datanglah pasukan belanda ke markas yang selama ini menjadi tempat persembunyian para pejuang Indonesia.
Kapiten : koe, orang ekstrimis.. pembangkang2 indonesia mati kalian semua.
SERBU…………..
Belanda VS Pejuang Indonesia
Pertempuran sengitpun terjadi, begitu banyak korban yang jatuh dipihak para penjajah dan pejuang indonesia. Tapi itu semua tidak mematahkan semangat para pejuang Indonesia, untuk berjuang merebut kembali Indonesia dari tangan penjajah.
Alhasil dengan kegigihan sertasemangat juang yang tinggi sampai titik dari penghabisan pun di menangkan oleh Indonesia. Dilucutilah semua pakaian belanda dan senjata untuk segera pergi dari bumi Indonesia ini.
Pejuang : pergi kalian semua dari tanah kami…dari Indonesia…merdeka
Segmen VIII
Diproklamirkanlah kemerdekaan Indonesia oleh bangsa Indonesia.
Ajudan 1 : kepada Pembina proklamator Indonesia …hormat grak.
Dengan serempak seluruh pejuang yang masih hidup memberikan hormat kepada proklamator.
Ajudan 1 : tegap grak.
Soekarno : (pembacaan teks proklamasi)
Ajudan 2 : kepada sang saka merah putih, hormat grak..
Berkumandanglah lagu Indonesia raya dengan suka cita yang dinyanyikan oleh semua rakyat Indonesia.
Ajudan 2 : Tegap grak
Semuanya : MERDEKA 2000000000x
MC : itulah tadi persembahan drama kemerdekan yang dibawakan oleh anak2 rt 5, apabila ada salah kata gerak, maupun tingkah laku kami mohon dibukakan pintu maaf yang selebar-lebar.
Adapun tempat,peristiwa. Dan kesamaan nama, juga tokoh tokoh setempat hanya kebetulan belaka akhir kata . wabilahitofik walhidayah…………..wr.wb.

JADI BINTANG Karya : Dra.Luwes Handayani

Seorang cewek sedang berjalan menyusuri kampung cewek tesebut bernama Sari ( Roby ),dia paling doyan menyanyi.
Sari : Duh dimana ya rumah Mbah Dukun ,sudah 10 Km berjalan kok
Gak nongol-nongol itu rumah Mbah Dukun.( Sambil berjalan
Menyusuri perkampungan dan tiba-tiba Sari terjatuh ).”Dasar batu Sialan,ku sumpahi kamu jadi batu seumur hidup”.
Kemudian dia berjalan lagi dan ternyata didepan matanya ada sebuah rumah yang mewah dan di depan pintu tertulis Om Dukun Ricard.
Sari : Nah ini dia,rumah yang kucari-cari.
Belum Sari mengetuk pintu dari dalam rumah keluar suara “ Silakan masuk “ Sari kebinggungan tetapi dia tetap masuk.
Sari : Mbah dukun.
Dukun : Mbah…..mbah,kapan saya nikah sama nenekmu? Panggil aku om
Dukun gitu loh!
Sari : Maaf mbah ee om dukun,mohon di sory.Sorry om dukun…….saya
Mau……
Dukun : Gak usah diteruskan,om sudah tahu,…..kamu ingin menjadi Bintang
Khan?
Sari : Om dukun kok tahu?
Dukun : Ya tahu dong,khan dalam skenarionya begitu!
Sari : Gimana om saya okey khan saya?
Dukun : Coba kamu goyang dulu biar om juga ikut goyang-goyang.
Kemudian lagu goyang Inul diputar dan Sari memperlihatkan goyangnya.Om dukun merem melek meliha goyangan Sari.
Dukun : Busyet…….ngebornya aduhai jadi goyang semua nich!
Sari : Gimana om,asyik khan goyangan Sari.
Dukun : Asyik……Asyik……
Sari : Kira-kira bisa khan om,Sari jadi Bintang?
Dukun : Bisa…..Bisa…..tapi,biar om beri mantra-mantra dulu.
( Diputar lagu Mbah Dukun )
Sari : Duh om….semprotannya kok bau jenkol?
Dukun : Sorry om lupa kalau baru makan jengkol.
Sari : Apa boleh saya pulang om?
Dukun : Silakan…. Tapi mana vulusnya?
Sari : ( Mengambil uang dalam bajunya ) Ini om!
Dukun : Lho kok Cuma gopek,kurang dong!
Sari : Khan tadi udah saya bayar dengan goyangan hot (Sambil bergoyang)
Dukun : Dasar kere…..tapi asyik juga
Sari berjalan pulang dan Sang dukun masuk.Kemudian muncul Eni dengan tantenya Omas.
Eni : Tan……gimana kira-kira apa ai bisa jadi bintang?
Omas : Tenang aja khan ada gue,so pasti menang.Sebabnya dalam acara
Nanti gue jadi MC.
Eni : Oo…..jadi Mesin Cuci?
Omas : Mesin cuci,emang geblek lu!
Eni : MC itu khan singkatan Mesin Cuci,apalagi itu bibir sama dengan
Mesin cuci manyungnya.
Omas : Dasar gak pernah sekolah.MC singkatan Master Ceremonia!
Eni : Oo….Begitu!!!
Omas : Udah,latihan sana.
Eni : ( Menyanyi ).
Omas : Stop-stop…..kurang tinggi.
Eni : ( Naik kursi ).
Omas : Bukan kamunya kurang tinggi tapi suaranya coba sekarang
Goyangannya.
Eni : ( Bergoyang )
Omas : Ini pantat kok seperti papan,nanti pada saat lomba supaya
Goyangannya yahut,itu pantat ditambah ama bantal ya!
Eni : Ya lihat sikon dulu tan!
Omas : Baiklah sekarang kita kelapangan dulu.
Eni : Untuk apa?
Omas : Untuk gigit palamu peang! Ya untuk latihan.
Eni : Come on.
Omas dan Eni masuk,kemudian Rosi keluar sambil membawa HP dan menelpon seseorang.
Rosi : Loha…..Halo……disini Rosi ganti.
Mr X : Rojer…..disini Mr X ganti.
Rosi : Gimana Mr X apa uang yang saya transfer udah masuk?
Mr X : Gak usah kuatir,uangnya uadah masuk ke perut semua.
Rosi : Jadi kalau gitu so pasti nanti saya yang jadi Bintang dalam
Audisi.
Mr X : Rebes….. so pasti you jadi Bintangnya.
Rosi : Thank you Mr X
Mr X : ( Dibelakang Rosi ) Sama-sama
Rosi : Oh jadi dari tadi Mr disini?
Mr X : Ya.
Rosi : Kari-kari ee kira-kira gimana Mr X.
MrX : Gak usah takut yang penting joget yahut dan suara OK.( Jadilah
Bintang dilantunkan )
Rosi : Apa Mr X mau melihat dan mendengar suara dan goyangngan saya?
Mr X : Boleh…….boleh……..
Rosi : ( Menyanyi ) dan bergoyang
MrX : Hebat juga kamu,tapi…….
Rosi : Tapi kenapa Mr……
Mr X : Sayang kulitmu seperti kopi gimana kalau sebelum lomba nanti
Setiap hari mandi susu.
Rosi : Susu!
Mr X : Ya susu.
Rosi : Nanti khan jadi kopi susu dong.
Mr X : Ya buat nanti semua juri diberi kopi susunya gitu!
Rosi : AH Mr ada-ada saja aku jadi malu ! Mr saya izin pulang dulu ya, mau mandi susu !
Mr X : Silakan !
Hari berganti hari dan tibalah hari dan tibalah saatnya lomba nyanyi
Muncul peri bibir alias omas dan tompel memperkenalkan diri dan kemudian memperkenalkan para juri.
Omas : Juri yang pertama kita sambut bang Thoyib.
Juri I : ( berdiri dan mengangkat tangan )
Omas : Juri yang kedua adalah mbak Levi
Juri II : ( berjoget )
Omas : Juri yang terakhir adalah bang Mansur
Juri III : ( cerama agama )
Tompel : Omas malam ini malam yang sungguh berkesan dalam hidup aku .
Omas : Why
Tompel : Karena malam ini aku bersanding dengan ratu bibir selain itu malam ini aku bisa melihat manusia-manusia planet.
Omas : Itu bukan manusia planet tapi manusia yang baru keluar dari kubur.
Tompel : Baiklah kita panggilkan peserta dengan nomor undian 2006 wakil dari negeri kayangan.
Omas : Inilah Sarirapet……..
Diputar lagu Banjar . Setelah selesai bernyanyi komentator jatuh pada juri I.
Juri : Oke Sari suara tidak mengecewakan hanya saja pit control harusnya kamu kontrol supaya nadanya dan suara jadi pas dan satu lagi andai kamu lebih tinggi lagi maka suaramu akan lebih bagus.
Sari : Terima kasih bang juri.
Omas : Oke itu tadi peserta nomor 2006 berikutnya peserta dengan nomor undian 2007.
Tompel : Inilah Eny….. wakil dari planet Mars.
Diputar lagu Jawa.Setelah bernyanyi ganti juri 2 yang berkomentar.
Juri : Good….good hanya satu yang kurang dari anda yaitu kenapa badan anda kurus sekali sehingga membuat suara anda jadi mudah dibawa angin.
Eny : Nuwun atas penghinaan ini mbak Levi.
Tompel : Peserta berikutnya adalah wakil dari alam dedemit.
Omas : Inilah……Rosi
Diputar lagu dangdut.Dan selesai bernyanyi Rosi dikomentari oleh juri 3.
Juri : Ih seram….itu kulit atau aspal ? Tapi biar hitam suara tetap oke namun akan lebih oke lagi kalau kulitnya putih sehingga suaranya pun jadi jernih makanya sering-seringlah mandi susu supaya jadi putih.
Rosi : Thank You mas juri setelah ini akan saya peras susu saya ee kliru susu sapi saya dan akan saya pakai mandi besar supaya dari ujung rambut sampai ujung kaki jadi putih semua.
Omas : Selesai suda para peserta menunjukkan kebolehannya dan sekarang kita tinggal menunggu hasil dari dewan juri.
Tompel : Sambil menunggu dewan juri menilai bagaimana kalau kamu menyayi ?
Omas : Oke siapa takut.
Diputar lagu bugis dan omas bernyanyi sedang tompel berjoget.
Selesai omas bernyanyi para juri sudah selesai menilai dan juri 3 yang membacakan hasil penilaian tim juri ternyata dari hasil penilaian juri yang menjadi pemenangnya adalah omas karena pada waktu omas menyanyi tim juri memperhatikan,mendengarkan ternyata suara dan bodi omas yang memenuhi selera juri.

Makalah Pendidikan: Strategi Menghadapi Liberalisasi Pendidikan Tinggi

Dalam tipologi yang digunakan oleh para ekonom kegiatan usaha dalam masyarakat dibagi dalam 3 sektor. Sektor primer mencakup semua industri ekstraksi hasil pertambangan dan pertanian. Sektor sekunder mencakup industri untuk mengolah bahan dasar menjadi barang, bangunan, produk manufaktur dan utilities. Sektor tersier mencakup industri-industri untuk mengubah wujud benda fisik (physical services), keadaan manusia (human services) dan benda simbolik (information and communication services). Sejalan dengan pandangan ilmu ekonomi, WTO menetapkan pendidikan sebagai salah satu industri sector tersier, karena kegiatan pokoknya adalah mentransformasi orang yang tidak berpengetahuan dan orang tidak punya ketrampilan menjadi orang berpengetahuan dan orang yang punya ketrampilan.
Kontribusi sector tersier terhadap produk nasional suatu bangsa memang cenderung meningkat seiring dengan kemajuan pembangunan bangsa tersebut. Sejak 1980-an di negara-negara maju, perdagangan jasa tumbuh pesat dan telah memberikan sumbangan yang besar pada produk domestik bruto (PDB), lebih besar dibandingkan dengan sector primer dan sekunder. Tiga negara yang paling mendapaatkan keuntungan besar dari liberalisasi jasa pendidikan adalah Amerika Serikat, Inggeris dan Australia (Enders dan Fulton, Eds., 2002, hh 104-105). Pada 2000 ekspor jasa pendidikan Amerika mencapai US $ 14 milyar atau Rp. 126 trilyun. Di Inggeris sumbangan pendapatan dari ekspor jasa pendidikan mencapai sekitar 4 persen dari peneimaan sector jasa negara tersebut. Menurut Millea (1998), sebuah publikasi rahasia berjudul Intelligent Exports mengungkapkan bahwa pada 1994 sector jasa telah menyumbangkan 70 persen pada PDB Australia, menyerap 80 persen tenaga kerja dan merupakan 20 persen dari ekpor total negara Kangguru tersebut, Sebuah survey yang diadakan pada 1993 menunjukkan bahwa industri jasa yang paling menonjol orientasi ekpornya adalah jasa komputasi, pendidikan dan pelatihan. Ekpor jasa pendidikan dan pelatihan tersebut telah menghasilkan AUS $ 1,2 milyar pada 1993. Fakta tersebut dapat menjelaskan mengapa tiga negara maju tersebut amat getol menuntut liberalisasi sector jasa pendidikan melalui WTO,
Sejak 1995 Indonesia telah menjadi anggota WTO dengan diratifikasinya semua perjanjian-perjanjian perdagangan multilateral menjadi UU No, 7 tahun 1994. Perjanjian tersebut mengatur tata-perdagangan barang, jasa dan trade related intellectual property rights (TRIPS) atau hak atas kepemilikan intelektual yang terkait dengan perdagangan. Dalam bidang jasa, yang masuk sebagai obyek pengaturan WTO adalah semua jasa kecuali “jasa non-komersial atau tidak bersaing dengan penyedia jasa lainnya”.

Umpan Balik yang Efektif bagi Siswa

Umpan balik merupakan sebuah proses di kelas yang telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti praktik pembelajaran sejak tahun 1970-an hingga sekarang ini. Secara konsisten, para peneliti telah menemukan bukti-bukti bahwa ketika guru mampu menggunakan prosedur umpan balik yang efektif ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswanya. Bahkan, hasil studi yang dilakukan Bellon, Bellon, dan Blank menunjukkan bahwa dibandingkan dengan berbagai perilaku mengajar lainnya, pemberian umpan balik akademik ternyata lebih berkorelasi dengan prestasi belajar siswa. Dengan tanpa memandang kelas, status sosial ekonomi, ras, atau keadaan sekolah korelasi ini cenderung konsisten. Ketika umpan balik dan prosedur korektif digunakan secara tepat ternyata sebagian besar siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya hingga di atas 20% .
Umpan balik yang efektif merupakan bagian integral dari sebuah dialog instruksional antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan dirinya sendiri, dan bukanlah sebuah praktik yang terpisahkan.
Terkait dengan umpan balik yang efektif ini, Black dan Wiliam mencatat tiga komponen penting yaitu:
(1) Recognition of the desired goal.
Umpan balik diberikan sebagai respons atas kinerja siswa. Kinerja siswa adalah kesanggupan siswa untuk dapat menunjukkan penguasaannya atas berbagai tujuan pembelajarannya. Guru harus dapat merumuskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai secara jelas dan dapat mengkomunikasikannya pada awal pembelajaran, baik tentang wilayah materi, indikator kurikuler maupun penguasaan tujuan.
Salah satu metode yang cukup efektif untuk memastikan bahwa siswa memahami tujuan pembelajarannya yaitu dengan cara melibatkan mereka dalam menetapkan “kriteria keberhasilan” yang bisa dilihat atau didengar. Misalnya, guru dapat memperlihatkan beberapa contoh produk sebagai tujuan pembelajaran yang patut ditiru oleh para siswa, menunjukkan kalimat-kalimat yang benar dengan ditulis menggunakan huruf kapital, kesimpulan yang diambil dari data, penyajian tabel atau grafik dan sejenisnya.
Apabila para siswa telah dapat memahami tentang kriteria keberhasilan pembelajarannya, mereka akan terbantu untuk mengarahkan belajarnya dan mereka akan lebih mampu untuk melaksanakan proses pembelajarannnya
Selain memberikan pemahaman yang jelas tentang tujuan pembelajaran, guru juga perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami indikator dari tingkat penguasaan tujuan pembelajarannya, baik secara lisan, tertulis maupun dalam bentuk lainnya.
(2) Evidence about present position
Istilah ”bukti” di sini menunjuk kepada informasi atau fakta tentang kinerja yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran, khusunya tentang sejauhmana tujuan pembelajaran telah tercapai dan sejauhmana tujuan pembelajaran itu belum tercapai.
Grant Wiggin mengemukakan bahwa umpan balik bukanlah tentang pemberian pujian atau celaan, persetujuan atau ketidaksetujuan, tetapi sebagai usaha untuk memberikan nilai atau makna. Umpan balik pada dasarnya bersifat netral yang menggambarkan apa yang telah dilakukan dan tidak dilakukan siswa. Selain itu, bahwa umpan balik juga harus bersifat obyektif, deskriptif dan disampaikan pada waktu yang tepat yakni pada saat tujuan pembelajaran masih segar dalam benak siswa.
Salah satu cara pemberian umpan balik yang cukup bermakna yaitu dengan membandingkan produk siswa dengan kriteria keberhasilan telah telah dikomunikasikan sebelumnya. Contoh sederhana pemberian umpan balik yaitu dengan membuat sebuah format tentang “Daftar Kriteria Keberhasilan”. Dalam daftar tersebut, guru dapat memberikan tanda + (plus) untuk menunjukkan tentang kriteria yang telah berhasil dipenuhi siswa dan memberikan catatan tertentu untuk yang belum dipenuhinya.
(3) Some understanding of a way to close the gap between the two.
Umpan balik yang efektif yaitu harus dapat memberikan bimbingan kepada setiap siswa tentang bagaimana melakukan perbaikan. Black dan Wiliam menegaskan bahwa setiap siswa harus diberi bantuan dan kesempatan untuk melakukan perbaikan. Guru tidak hanya memberikan umpan balik yang mencerminkan tentang kinerja yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran siswanya, tetapi juga harus dapat memberikan strategi dan tips tentang cara yang lebih efektif untuk mencapai tujuan, serta kesempatan untuk menerapkan umpan balik yang diterimanya.
Wiggins meyakini bahwa melalui siklus umpan balik ini dapat menghasilkan keunggulan kinerja siswa. Oleh karena itu, siswa harus senantiasa memiliki akses rutin terhadap kriteria dan standar-standar tugas yang harus dituntaskannya; mereka juga harus memperoleh umpan balik dalam upaya menyelesaikan tugas-tugasnya, mereka harus memiliki kesempatan untuk memanfaatkan umpan balik untuk memperbaiki kerjanya serta mengevaluasi kembali terhadap standar
Sumber :
Terjemahan bebas dari judul asli : Providing Students with Effective Feedback. Academic Leadership Jounal online Volume 4 – Issue 4 Feb 12, 2007

YANG TERLEWATKAN DALAM PENDIDIKAN

ADA kesan kuat, baik guru, orangtua, maupun murid, selalu didorong untuk mengejar dan menghimpun informasi keilmuan sebanyak mungkin, namun melupakan aspek pendidikan yang fundamental, yaitu bagaimana menjalani hidup dengan terhormat. Salah satu penyebab merebaknya korupsi ialah gagalnya dunia pendidikan dalam pembentukan karakter agar hidup selalu dipandu nurani.
Pagi-pagi, seorang ibu dan anaknya dengan wajah tegang menuju rumah seorang aparat pemerintah. Pertemuan itu tak lebih dari 10 menit. Ibu dan anak pamit, dan pulang dengan wajah ceria. Keceriaan disampaikan kepada ayahnya melalui telepon. Apa yang terjadi?
Rupanya ibu dan anak itu berhasil memperoleh bocoran soal ujian setelah membayar sejumlah uang. Apa yang signifikan dari peristiwa ini? Jika peristiwa itu direnungkan, suatu hal amat jelas. Orangtua telah menanamkan virus kehidupan kepada anak bahwa sukses bisa dibeli dengan uang, dengan menyogok, dan semua itu seolah sah-sah saja. Peristiwa itu juga menggoreskan catatan seumur hidup di hati anak. Pagi itu, orangtua telah merobohkan prinsip kejujuran. Akibatnya, jika suatu saat orang atau guru mengajarkan nilai-nilai kejujuran, anak akan menilai semua itu bisa ditawar. Singkatnya, secara moral orangtua tidak lagi punya wibawa untuk mengajarkan kejujuran di mata anaknya.
Belum lama ini saya dibuat tercenung membaca Pojok Kompas (15/1). Tertulis: "Kelulusan 322 calon PNS di Departemen Agama dibatalkan sebab yang bersangkutan tak ikut tes". Di lingkungan Depag, juga di departemen lain, kecurangan seperti ini bukan hal baru. Namun saat korupsi terjadi di Depag, implikasi moral politiknya lebih besar karena bisa mengarah pada logika bahwa Depag yang mestinya berperan sebagai "sapu yang bersih" telah terseret dan menyatu bersama sampah yang hendak dibersihkan.
Pendidikan berbasis karakter
Pendidikan adalah usaha sistematis dengan penuh kasih untuk membangun peradaban bangsa. Di balik sukses ekonomi dan teknologi yang ditunjukkan negara-negara maju, semua itu semula disemangati nilai-nilai kemanusiaan agar kehidupan bisa dijalani lebih mudah, lebih produktif, dan lebih bermakna. Namun banyak masyarakat yang lalu gagal menjaga komitmen kemanusiaannya setelah sukses di bidang materi, yang oleh John Naisbit diistilahkan High-Tech, Low-Touch. Yaitu gaya hidup yang selalu mengejar sukses materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam. Akibatnya, orang lalu menitipkan harga dirinya pada jabatan dan materi yang menempel, tetapi kepribadiannya keropos.
Seseorang merasa diri hebat dan berharga bukan karena kualitas pribadinya, tetapi jabatan dan kekayaan, meski diraih dengan cara tidak terhormat. Pribadi semacam ini oleh Erich Fromm disebut having oriented, bukan being oriented, pribadi yang obsesif untuk selalu mengejar harta dan status, tetapi tidak peduli pada pengembangan kualitas moral.
Ketika pendidikan tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai basisnya, maka yang akan dihasilkan adalah orang yang selalu mengejar materi untuk memenuhi tuntutan physical happiness yang durasinya hanya sesaat dan potensial membunuh nalar sehat dan nurani. Padahal, aktualisasi nilai kemanusiaan membutuhkan perjuangan hidup sehingga seseorang akan merasa lebih berharga dan bahagia saat mampu meraih kebahagiaan nonmateri, yaitu intellectual happiness, aesthetical happiness, moral happiness ,dan spiritual happiness. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu anak didik bisa merasakan, menghayati, dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai yang moral, estetikal, dan spiritual. Peradaban dunia selalu dibangun oleh tokoh-tokoh moral-spiritual, yang dihancurkan politisi dan teknokrat yang mabuk kekuasaan.
Selama ini produk pendidikan amat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas anak sehingga mereka sulit mengagumi keramahan langit terhadap bumi, gemercik air, festival awan, kekompakan hidup dunia semut, dan perilaku alam lain yang semua itu merupakan ayat-ayat Tuhan dan bacaan terbuka yang amat indah. Ini semua disebabkan kesalahan proses pendidikan yang kita dapat, yang hampir melupakan dimensi akal budi dan emosi serta tidak memandang alam sebagai entitas yang hidup.
Sebenarnya tak ada benda mati di hadapan orang yang akal budinya hidup. Terlebih di hadapan Tuhan, semuanya hidup dan bekerja atas perintah-Nya karena tercipta bukan tanpa tujuan. Pendidikan kita kurang mengajarkan bagaimana bersahabat dan berdialog dengan kehidupan secara menyeluruh.
Sebuah kasus menarik saat bencana tsunami di Aceh, hampir tidak ditemukan bangkai sapi atau kerbau dan hewan lain karena semuanya telah menyelamatkan diri. Hewan-hewan itu memiliki kepekaan dan mampu berdialog dengan sesama penghuni bumi saat bahaya akan datang. Kalaupun ada yang mati, itu lebih dikarenakan hewan-hewan itu kurang makan atau terjebak di kandang.
Belajar dan mengajar dengan hati
Seiring munculnya kesadaran dan tuntutan moral dalam dunia bisnis, dalam dunia pendidikan juga muncul gerakan baru untuk melibatkan emosi dan nurani dalam proses pembelajaran. Dipopulerkan oleh Danah Zohar, Ian Marshall, dan Daniel Golleman, literatur seputar betapa vitalnya dimensi spiritual dan emosional dalam kerja dan belajar kian diapresiasi kalangan eksekutif muda dan praktisi pendidikan. Misalnya, Training ESQ- Leadership yang dimotori Ary Ginanjar mendapat sambutan masyarakat.
Pelatihan ini menghasilkan lebih dari 50.000 alumni, tersebar di seluruh perusahaan di Indonesia, dan tiap bulan bertambah sedikitnya 7.000. Bahkan training ini telah masuk kurikulum SESKOAD Bandung. Fenomena ini tentu amat menggembirakan, sebuah kebangkitan kesadaran etis dan spiritual dalam upaya membangun bangsa yang bermartabat serta mendorong lahirnya generasi baru yang setia dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan.
Ada beberapa buku yang sebaiknya dibaca para guru, misalnya karya-karya Eric Jensen, Thomas Armstrong, dan Dave Meier soal bagaimana menciptakan proses dan suasana pembelajaran dengan mengacu pada sifat otak dan emosi (brain based learning) sehingga suasana belajar menjadi nyaman, kreatif, dan kontemplatif. Pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subyek, di mana anak-anak itu memiliki nurani dan potensi multikecerdasan, namun belum tergali dan teraktualisasi. Dengan demikian, proses pembelajaran sebaiknya dimulai dengan melihat, mengamati, dan merasakan lingkungan sosial yang dihadapi, guru dan murid berempati menjadi bagian integral dari realitas sosial dan semesta. Dari situ keilmuan dibangun untuk membantu memecahkan problem kemanusiaan.
Semua ilmu pengetahuan awalnya adalah produk kegelisahan akal budi dan nurani guna meringankan beban hidup manusia. Celakanya, banyak kaum profesional dan birokrat yang dengan ilmu dan jabatannya malah menjadi penindas rakyat. Rakyat amat merindukan pemimpin, birokrat, dan pelaku pasar yang senantiasa mempertahankan prinsip hidup terhormat, hidup yang dipimpin suara hati, meski bisa jadi harus siap hidup sederhana. Itu semua harus dimulai dari pendidikan keluarga dan sekolah yang menjunjung tinggi pendidikan karakter.
Komaruddin Hidayat Pembina Sekolah Berwawasan Internasional (SBI) Madania
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/03/opini/1538957.htm